Jumat, 27 November 2015

         Gunung kelud memang mempunyai segudang keindahan yang bisa anda nikmati. Terletak sekitar 30 Km dari pusat Kota Kediri menuju arah timur objek wisata gunung kelud ini memang menjadi salah satu destinasi objek wisata gunung berapi yang sangat indah di jawa timur selain objek wisata gunung bromo atapun objek wisata gunung semeru.

Pada artikel kali ini koswisata menginformasikan kepada anda semua tentang keindahan wisata gunung kelud ini. Perjalanan ke tempat wisata gunung kelud dari kota kediri memang bisa dibilang lumayan jauh. Dan kunjungan koswisata kali ini adalah kunjungan yang ke sekian kalinya ke gunung yang terakhir meletus pada tahun 2007 kemarin. Perjalanan kami mulai dari Kota Kediri pada siang hari sekitar pukul 13.00, tujuan kami berangkat siang hari adalah karena kami ingin menikmati pemandangan indah yang disajikan di jalan menuju kawah gunung kelud.
Dari arah kediri kami berkendara ke timur, dan skitar 1 jam kurang kami berkendara kami sampai di Kecamatan Wates. Bila anda ingin membawa perbekalan untuk di bawa ke Gunung kelud kami sarankan anda mempersiapkannya di daerah wates ini. Dari wates kami terus melanjudkan perjalanan, karena kami sudah tidak sabar ingin cepat sampai tujuan dan segera menikmati keindahan gunung kelud. Bila anda baru pertama datang ke Gunung Kelud anda tidak perlu cemas atau khawatir akan tersesat karenan banyak penunjuk jalan yang siap memandu anda menuju Gunung Kelud. Rute perjalanan dari Kota kediri menuju Gunung Kelud adalah sebagai berikut:

Update Terbaru Penemuan Patung Mahesa Suro sang penunggu gunung kelud setelah erupsi gunung kelud: Munculnya Patung Mahesa Suro Setelah Erupsi Gunung Kelud 

KEDIRI - PESANTREN - WATES - NGANCAR - DESA SUGIHWARAS - GUNUNG KELUD

Wisata Gunung Kelud
Wisata Gunung Kelud

Tiket Masuk Gunung Kelud

Sekitar 35 menit kami berkendara dari Kecamatan Wates tadi kami sampai di pintu gerbang masuk Wisata Gunung kelud. Kami berhenti sebentar untuk membayar tiket masuk. Harga tiket masuknya adalah Rp 5000,- tetapi jika anda berkunjung pada hari Sabtu-Minggu atau hari libur harga tiket naik menjadi Rp 10.000,- . Dari gerbang masuk kami lalu melanjudkan perjalanan kembali, Mulai dari gerbang masuk jalanan semakin menanjak dan berkelok - kelok dan bahkan pada beberapa ruas jalan yang menanjak tajam dan ada yang jalannya sempit.

Gapura Dan Loket Pembelian Tiket Kawasan Wisata Gunung Kelud
Wisata Gunung Kelud
Perjalanan Menuju Gunung Kelud
wisata g.kelud
Perjalanan Menuju Gunung Kelud











Mysterious Road Gunung Kelud

Di tengah perjalanan anda akan di suguhi pemandangan indah khas pegunungan, itu jika anda datang ke sini pada pagi atau siang hari. Sebelum sampai di Gunung kelud anda akan melewati Mysterius Road. Pasti jika anda belum pernah ke sini akan bertanya - tanya apa itu Mysterius Road. Di Tempat Mysterius Road anda akan menjumpai ruas jalan yang terlihat menanjak namun jika kendaraan di hentikan pada posisi netral kendaraan ini akan berjalan naik. Atau lebih gampang untuk pembuktiannya silahkan anda taruh botol air mineral sengan posisi tertidul dan taruh butol air mineral tersebut di posisi jalan paling rendah di lokasi Mysterious Road tersebut. dan secara perlahan botol air mineral tersebut akan menggelundung naik.

Mysterious Road Gunung Kelud
Mysterious Road Gunung Kelud
Misterius Road
Cara Pembuktian Mysterous Road









VIDEO PEMBUKTIAN MYSTERIOUS ROAD GUNUNG KELUD

Lokasi Wisata Gunung Kelud

Akhirnya setelah melewati jalan yang berliku dan menanjak kami sampai juga di tempat parkir Wisata Gunung Kelud. Di sini kami di sambut dengan warung - warung makan yang berjejer rapi. Menu yang di sediakan mulai dari nasi pecel, nasi goreng, mie, soto, bakso, lontong kikil dan berbagai camilan dll. Dari area parkir kami berjalan kaki menuju ke arah anak gunung kelud. untuk sampai ke lokasi anak gunung kelud anda akan melewati terowongan yang panjangnya sekitar 150 m. Di dalam terowongan sudah di pasang lampu agar para wisatawan bisa dengan leluasan berjalan kaki.

Warung Dan Tempat Parkir Gunung Kelud
Setelah melewati terowongan dan berjalan sekitar 10 menit akhirnya kami sampai di anak gunung kelud. Sungguh pemandangan yang luar biasa indah dan sangat eksotis.

Terowongan Gunung Kelud
Terowongan Menuju Kubah Lava Gunung Kelud

Kubah Lava Gunug Kelud

Sumber Air Panas Gunung Kelud

Setelah anda puas menikmati pemandangan kubah lava gunung kelud sempatkalah juga untuk merasakan sumber air panas yang terletak dibawah gunung kelud. Lokasinya sendiri berada di sebelah kanan sebelum anda memasuki terowongan menuju gunung kelud. Yang perlu anda siapkan disini adalah fisik yang harus prima karena untuk menuju sumber air panas gunung kelud anda harus menuruni tanggga yang lumayan menguras tenaga. Tapi tenang saja begitu anda sampai di sumber air panar gunung kelud semua rasa lelah anda akan terbayar lunas karena anda dapat merasakan hangatnya air yang bersumber dari kawah gunug kelud tersebut.

Sumber Air Panas Gunung Kelud
Sumber Air Panas Gunung Kelud

Update Terbaru Erupsi Gunung Kelud

Update terbaru untuk wisata gunung kelud sementara ini masih ditutup karena erupsi gunung kelud pada hari jumat-14-02-2014 kemarin dan kami masih menunggu kabar selanjudnya dari teman kami yang ada di desa ngancar dan sugihwaras kediri. Kita belum tahu kejutan apa lagi yang akan ditawarkan oleh gunung kelud ini dan semoga setelah wisata gunung kelud dibuka kembali untuk umum akan semakin indah dan semakin banyak menarik wisatawan.

Sumber : http://koswisata.blogspot.co.id/2013/09/gunung-kelud.html
Gunung Pulosari

Gunung Pulosari adalah gunung berapi di Kabupaten Pandeglang, Banten, Indonesia. Walaupun tidak ada data letusan yang pernah terjadi, tapi terdapat aktivitas fumarol yang terjadi di dinding kaldera dengan kedalaman 300 meter. (wikipedia).
Bagi masyarakat Banten, gunung Pulosari merupakan gunung penuh dengan mistis dan sangat kramat, disini banyak ditemui situs - situs kuno dalam bentuk batuan.
gunung ini memang tidak terlalu tinggi untuk pendakian tinggi gunung ini hanya 1346 Mdpl, sangat pendek memang diantara gunung - gunung lainnya  namun jangan salah trek dan jalurnya sangat menantang bagi para pendaki, menurut Mbah treknya itu seperti jalur gunung Cikuray dan gunung gede via putri. tanjakannya pun tinggi - tinggi.
untuk menuju ke gunung Pulosari ada beberapa opsi mau berkendaraan pribadi dengan motor/mobil atau naik angkutan umum jalurnya pun cukup mudah untuk dilalui, bagi yang ingin berkendara pribadi patokannya Pandeglang ke arah pertigaan Mengger, setelah sampai Mengger lurus ke arah Mandalawangi lurus terus sampai ke Pari, tidak jauh dari pasar Pari sekitar 2 - 3 km nanti ada plang tempat wisata pulosari.
Jika berkendara pribadi sekitar 3 jam - 4 jam dari arah Jakarta atau Tangerang, kalo dari serang sekitar 2 jam juga sampe ko.
Nah kalo ga mau cape kita bisa berkendara umum ko, naek mobil bis ke arah Labuan turun di pertigaan Mengger, lalu dilanjutkan naik angkot ke arah Pari, untuk harga angkutan umum Mbah kurang tau karena Mbah kesini naik motor biar menghemat dikit hehehe,,,,,,
dari jalan menuju Pos pemberangkatan lumayan jauh kalo jalan kaki, sekitar 2 Km lah,,,ya itung - itung pemanasan.
Sebelum memulai pendakian kita bisa istirahat dulu di warung - warung, kemarin sihh Mbah istirahat dulu di warung emak, disini kita bisa cek persiapan pendakian.
untuk masuk gunung ini kita dikenakan biaya retribusi sebesar Rp 5000
Ok jika persiapan dan isirahat sudah selesai dan tidak ada yang kurang, mari kita langsung memulai pendakian.
Dari warung menuju kawah atau pos 3 kurang lebih sekitar 2 jam sampai 3 jam perjalana, ya itu semua sihh tergantung dari pendaki, kalo yang udah sering bisa 1,5 jam tapi kalo buat pemula sihh bisa 3 jam hehe...
awal perjalanan pun cukup lancar dan jalan masih ditata rapih dengan batu kali, kita akan melewati kebun milik warga. perjalanan ini belum penuh dengan rintangan - rintangan yang berarti.
di tengah perjalanan sekitar 1 jam perjalanan nanti kita akan melewati warung kembali dan disuguhi oleh air terjun putri atau curug putri.
Disini kita dapat mengambil air untuk perbekalan nanti di kawah untuk minum atau pun memasak, sebenernya sihh di kawah ada air namun sudah tercampur sama belerang jadi rasanya agak masam, namun ada juga yang menggunakan air di belerang ini untuk keperluan masak. bagi yang ingin badan tambah seger bisa mandi juga nihh di curug ini tapi saran Mbah sihh mandi nya nanti saja sewaktu turun nya, biar pegel - pegel nya ilang.

Nahhh jika udah selesai ambil air dan istirahat sejenak langsung deh kita melakukan perjalanan yang sesuangguh nya yang penuh dengan rintangan dan kondisi tanah yang menanjak. meurut Mbah tanjakan di gunung ini sama seperti di Cikuray, ibarat kata jidat ketemu lutut yang bikin perjalanan kita semakin menyenangkan dan mendabarkan (lebay mode on :D).

Curug Putri
Curug Putri


Idealnya perjalanan dari Curug Putri ke ke kawah membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan. dengan perjalanan yang susah payah dengan jalan yang menanjak terus, namun jangan khawatir banyak bonus ko tidak kaya di cikuray hehe. . .
setelah sampai di kawah kita bisa langsung buka tenda disini, karena yang cocok untuk buka tenda di kawah ini, kalo udah ke atas lagi sulit menemukan tanah yang datar. jangan khawatir untuk buka tenda disini karena bau belerang nya tidak terlalu berbahaya ko. Namun saran Mbah sebaiknya buka tenda nya rada jauh dari sumber belerang dikarenakan tanah nya kalo malam mendekati pagi sangat panas, sebaiknya buka tenda yang terdapat rumput nya, soalnya Mbah waktu itu buka tenda di deket sumber kawah dikarenakan semua tempat sudah full ditempatin pendaki lain, dan itu dipastikan sangat panas sampai - sampai Mbah buka baju karena kegerahan dan kepanasan, baru kali ini Mbah mendaki gunung tidurnya sampai buka baju karena kegerahan.
perlu diketahui di kawah ini pun terdapat warung sederhana jadi bagi yang kehabisan bekal bisa beli juga di warung ini :D

Kawah

Pos 3 Kawah

Setelah semalaman istirahat, maka pagi - pagi kita harus udah bangun untuk mengejar sunrise atau Summit Attack ke puncak gunung Pulosari tapi kalo ga mau ya bisa rada siang menuju puncaknya. untuk menuju puncak dari kawah sekitar 1 jam - 1,5 jam perjalanan. untuk pemandangan di puncak ini kita bisa melihat laut dan gunung - gunung yang ada di sebelah nya, cukup indah ko pemandangannya. di puncak ini hanya dataran yang tidak cukup luas namun memanjang. puncak disini terdapat sebuah pemancar pemantau gempa.


Pulosari 1346 mdpl


Pemandangan diatas Puncak Gunung Pulosari
Pemandangan diatas Puncak Gunung Pulosari



Pemandangan diatas Puncak Gunung Pulosari
Pemandangan diatas Puncak Gunung Pulosari
Pemandangan diatas Puncak Gunung Pulosari
Pemandangan diatas Puncak Gunung Pulosari

Sumbe : http://petualangbijak.blogspot.co.id/2014/03/pendakian-gunung-pulosari-banten.html
 
Mendaki Gunung Burangrang
 Image result for rute gunung burangrang bandung
     Gunung ini terletak di sebelah utara dari kota Bandung. Bersebelahan dengan gunung Tangkuban Perahu yang berada di sebelah timurnya. Mempunyai ketinggian 2064 meter diatas permukaan laut. Gunung ini adalah gunung purba. Saya kurang tahu kenapa disebut gunung purba, mungkin karena gunung ini sudah ada dari jaman prasejarah #ngasal.
Untuk dapat mencapai gunung ini, dari kota Bandung kita dapat mengambil angkutan umum ke arah Ledeng, lalu tinggal nyebrang dari terminal Ledeng ada angkot putih jurusan Ledeng – Parongpong. Parongpong adalah salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Bandung Barat. Dari sini, dengan melihat ke arah utara kita sudah dapat betapa gagahnya gunung Burangrang di sebelah kiri dan gunung Tangkuban Perahu di sebelah kanannya. Biasanya puncak Burangrang tertutup oleh kabut.
Sedangkan untuk mendaki ke puncaknya, yang saya tahu terdapat 2 jalur pendakian yaitu pertama melewati gerbang Komando dan kedua melewati jalur legok haji. Disebut jalur komando mungkin karena jalur ini melewati daerah latihan Kopassus, sehingga untuk dapat naik ke gunung kita harus lapor dulu di pos pintu angin, sekitar 20 menit berjalan kaki dari gapura bertuliskan “KOMANDO” di sisi jalan raya Parongpong – Cisarua. Jalur ini sangat terkenal di kalangan pendaki pemula (mungkin) karena mempunyai trek yang lebih landai dan pemandangan yang lebih memukau dibandingkan jalur legok haji yang lebih curam dan hanya melewati rimbunan hutan saja.
Hari Sabtu, 14 Januari 2012, saya berdua dengan teman saya Rifqi FI09 mendaki gunung ini secara PP (pulang pergi tanpa camping). Kami berangkat dari gerbang belakang kampus ITB jam 7 naik angkot Cicaheum – Ledeng, lalu lanjut dengan angkot Ledeng – Parongpong yang ngetemnya super lama itu. Kira2 sampai di gerbang komando sekitar pukul 9 kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju pos pintu angin kira2 20 menit menuju utara. Disana kami beristirahat sebentar sembari minta izin ke Burangrang oleh seorang anggota Kopassus. Dari pos itu terdapat dua jalur yaitu ke kanan dan ke kiri. Jalur kanan adalah jalur menuju Situ Lembang dan ke kiri jalur menuju puncak Burangrang.
Tepat setengah 10 kami mulai mendaki. Trek benar2 landai dan masih santai tidak terlalu menguras tenaga. Pemandangan yang dapat dinikmati adalah hutan pinus dan kokohnya Burangrang di sebelah kiri jalan. Kira-kira 10-15 menit melewati hutan pinus, vegetasi mulai berubah menjadi semak-semak lalu mulai memasuki hutan. Di dalam hutan trek masih landai dengan sesekali ada tanjakan. Karena malamnya hujan, tanjakan ini menjadi arena “perosotan” bagi kami berdua yang tidak memakai sepatu khusus trekking, malah Rifqi memakai sepatu futsal.
Makin keatas, hutan semakin padat dan sesekali jalan setapak dihalangi oleh pohon yang tumbang. Perpaduan gerakan mendaki dan merunduk menjadi sebuah kelaziman. Kira-kira setelah berjalan 1 jam, hutan semakin rimbun dan semakin basah karena kabut. Jalan setapak ini dibuat di punggungan sehingga di sebelah kiri dan kanan jalan dapat berupa jurang atau memiliki tanah yang lebih rendah. Waspadai jalanan yang licin yang mungkin saja dapat membuat kita terperosok. Setelah jalan 2 jam-an, di sebelah kanan dapat terlihat jelas (jika tidak ada kabut) pemandangan cekungan antara gunung Tangkuban Perahu dan Situ Lembang, indah sekali, sayang waktu itu kami berdua tidak membawa kamera sehingga perjalanan ini tidak ada dokumentasinya. Jika pembaca penasaran silahkan di googling saja fotonya, saya kira pemandangan ini adalah pemandangan favourite dan unik ketika mendaki Burangrang lewat jalur Komando.
Kabut juga sering turun di tempat yang tinggi ini. Kadang juga disertai oleh gerimis, sehingga wajib bawa jas hujan atau minimal jaket yang tahan air. Ketika mendekati puncak, vegetasi mulai berubah menjadi tumbuhan paku setinggi pinggang. Ada beberapa tanjakan curam sebelum sampai di puncak. Tanjakan ini berupa campuran batu dan tanah liat yang akan sangat licin jika hujan.
Kurang lebih pukul 12 siang kami telah sampai di puncak Burangrang. Pertanda anda sudah mencapai puncak adalah tugu triangulasi yang menandakan anda berada di ketinggian 2064 mdpl. Sayang masih ada saja vandalisme di tugu ini. Banyak coretan dan bahkan “relief-relief” nama diukir disana! Dari puncak Burangrang kita dapat melihat pemandangan kota Bandung di arah Tenggara (jika tidak tertutup kabut). Kota Bandung bagai kota yang digelar di dasar mangkok pegunungan yang mengelilinginya. Percayalah bahwa Bandung itu berada di cekungan dan dikelilingi oleh gunung-gunung. Melihat ke sedikit arah timur, ada gunung Manglayang yang menjadi target pendakian saya selanjutnya.
Kira-kira hanya setengah jam kami keatas, karena kabut mulai tebal dan hujan mulai turun, kami memutuskan untuk turun. Tapi kami tidak melalui jalur yang sama dengan berangkat, kami melalui jalur lain yaitu jalur legok haji yang langsung mengarah ke selatan dari puncak. Dan jalur ini curam. Bahkan ditengah jalan akan sering kita temui turunan yang membuat kita sedikit lompat karena tinggi sekali. Karena malamnya hujan, jalur ini sangat licin sekali. Saya berkali-kali terpeleset dan jatuh. Malah yang lebih parah saya sekali terpeleset jatuh terduduk, lalu meluncur ke bawah dan terguling-guling. Untung tidak ada luka yang berarti, hanya lecet-lecet sedikit. Saya perkirakan saya meluncur dari ketinggian kira-kira 2 meter.
Turunan yang curam ini akan terus ada hingga kami melewati 2 “terowongan” yang sebenarnya adalah tumbuhan yang membentuk terowongan. Jika vegetasi berubah dari hutan hujan menjadi semak-semak, anda sudah dekat dengan tepi hutan. Kira-kira setelah berjalan 2 jam 15 menit kami sudah keluar dari hutan. Kini kiri-kanan jalanan adalah padang rumput. Saya lihat ke belakang gunung Burangrang sangat kokoh dengan kabut di puncaknya. Jalur masih turun kebawah, lama-lama akan melewati perkebunan milik warga lalu akan berujung ke jalan beraspal suatu kampung (saya tidak tahu nama kampungnya). Dari jalanan kampung menuju jalan utama Parongpong Cisarua ternyata masih jauh. Beruntung kami mendapat tumpangan motor oleh penduduk setempat yang mau ke pertigaan SPN Cisarua. Disana kami naik angkot ke arah Parongpong, lanjut Ledeng dan pulang.
Mungkin ada beberapa tips dari saya
1. pastikan bawa air yang cukup. Selama diperjalanan mendaki saya tidak melihat sumber air
2. jangan lupa memakai sepatu trekking yang mempunyai sol yang tidak licin dan kasar
3. hati-hati tanaman berduri, banyak sekali di jalur legok. mungkin jika kita membawa golok akan sangat membantu

sumber : http://adrianpradana.com/2012/01/18/mendaki-gunung-burangrang-pp/

Bukit Sikunir Dieng

Diulas oleh : Wisata Dieng
Sikunir Dieng. Bukit Surga bagi para Pecinta Sunrise dan lanskap pemandangan alam.
Sikunir mungkin cuma bukit kecil, namun banyak kesan bisa didapat disini terutama kearena keindahan Golden Sunrisenya.
Sikunir Dieng tak pernah sepi dari pengunjung, Ratusan bahkan wisatawan berbondong ke tempat ini setiap minggunya. Bahkan di saat-saat tertentu seperti misalnya  acara Dieng Culture Festival, Tahun Baru dan libur Panjang, Jalur ke Sikunir mengalami macet, penuh sesak oleh kendaraan  para Pengunjung.

Rute / Akses ke Sikunir

Sembungan, sebuah desa tertinggi  di pulau jawa ini bisa dibilang basecampnya sikunir. Desa Sembungan merupakan titik start paling familiar yang digunakan para wisatawan untuk memulai pendakian ke Bukit Sikunir Dieng hingga Puncaknya demi mendapatkan pengalaman istimewa menjadi saksi detik-detik pergantian hari dan menyaksikan semburat mentari beranjak dari peraduan menciptakan pemandangan Istimewa serasa di puncak dunia.
Jika anda start dari Kawasan Wisata Dieng, maka dibutuhkan waktu sekitar limabelas hingga tigapuluh menitan menggunakan kendaraan (waktu perjalanan sangat dipengaruhi kondisi dan rute jalan yang dilalui ) untuk mencapai desa sembungan untuk kemudian dilanjutkan pendakian ke Puncak Sikunir yang kurang lebih memakan waktu setengah Jam.
Jika anda menginap di Desa sembungan, anda bisa langsung melakukan pendakian dari titik start tempat Parkir dekat Telaga Cebong.

sumber : http://panduanwisatadieng.com/wisata/bukit-sikunir/
Gunung Merbabu
      Gunung Merbabu terletak di jawa tengah dengan ketinggian 3.142M dpl pada puncak Kenteng Songo. Gunung Merbabu berasal dari kata "meru" yang berarti gunung dan "babu" yang berarti wanita. Gunung ini dikenal sebagai gunung tidur meskipun sebenarnya memiliki 5 buah kawah: kawah Condrodimuko, kawah Kombang, Kendang, Rebab, dan kawah Sambernyowo.
Terdapat 2 buah puncak yakni puncak Syarif (3119m) dan puncak Kenteng Songo (3142m). Puncak Gn.Merbabu dapat ditempuh dari Cunthel, Thekelan, (Kopeng / Salatiga) Wekas (Kaponan / Magelang) atau dari selo (Boyolali). Perjalanan akan sangat menarik bila Anda berangkat dari jalur Utara (Wekas, Cunthel, Thekelan) turun kembali lewat jalur selatan (Selo).
Pemandangan yang sangat indah dapat disaksikan disepanjang perjalanan tersebut. Banyak terdapat gunung disekitar gunung Merbabu, diantaranya Gn. Merapi, Gn.Telomoyo, Gn.Ungaran. Gunung Merbabu ini membentuk garis deretan gunung berapi ke arah utara Merapi - Merbabu - Telomoyo - Ungaran.
JALUR SELO
Kecamatan Selo masuk wilayah Kabupaten boyolali, Jawa Tengah. Selo berada di tengah-tengah antara Gunung Merbabu dan Gunung Merapi. Pendaki yang hendak menapaki puncak Gunung Merapi lebih suka mengambil jalur dari Selo ini. Sedangkan Pendaki Gunung Merbabu lebih suka mendaki dari Kopeng dan turun di Selo.
Untuk mendaki ataupun turun gunung Merbabu lewat jalur Selo sebaiknya membawa pemandu atau harus ada pendaki yang pernah melewati jalur ini. Hal ini disebabkan karena banyaknya percabangan yang bisa menyesatkan pendaki. Meskipun nantinya akan sampai di juga perkampungan, namun sulit sekali mencari kendaraan umum dan tidak ada sumber air. Selain itu jalur yang salah akan melintasi sisi jurang terjal yang sangat berbahaya.
Untuk menuju ke Selo bisa ditempuh dari Magelang atau dari Boyolali. Namun lebih mudah memperoleh kendaraan umum dari Boyolali. Untuk menuju ke kota Boyolali dari Semarang naik bus ke Solo atau sebaliknya dari Solo naik bus jurusan Semarang turun di kota Boyolali. Apabila dari kota Yogyakarta harus naik bus jurusan Solo turun di Kartasura, kemudian ganti bus jurusan Solo Semarang turun di kota Boyolali.
Untuk menuju ke Selo dari kota Boyolali menggunakan bus kecil jurusan Selo. Bus yang langsung ke Selo agak jarang biasanya hanya sampai Pasar Cepogo, dan dari pasar Cepogo ganti lagi bus kecil yang menuju Selo. Dari kota Boyolali bus kecil yang menuju Selo ini tidak parkir di terminal Boyolali. Pendaki harus sedikit berjalan kaki ke Pasar Sapi di mana bus kecil jurusan Cepogo/Selo berhenti mencari penumpang. Di Pasar ini terdapat patung Sapi yang melambangkan industri peternakan sapi yang menjadi andalan pendapatan masyarakat Boyolali.
Air bersih agak sulit di dapat di Selo, penduduk desa Lencoh yang berada di lereng gunung Merapi untuk memperoleh air bersih harus menyalurkan air bersih yang berasal dari gunung Merbabu. Sehingga di Selo jarang terdapat hotel, losmen, atau penginapan. Pendaki biasa menginap di basecamp pendakian Gn. Merapi maupun Gn. Merbabu.
Setelah mendaftar di Kantor Polisi Selo, untuk menuju ke basecamp Gn. Merbabu, dari Selo tepatnya dari kantor Polisi, pendaki harus berjalan kaki menyusuri jalan aspal sekitar 1 jam, cukup jauh dan menanjak sehingga cukup melelahkan. Melintasi perkampungan penduduk dan ladang-ladang yang berada di lereng-lereng terjal. Pendaki bisa menyewa mobil bak sayuran untuk menuju ke basecamp, atau bisa juga naik ojek. Untuk pemanasan pendakian, berjalan kaki bisa menjadi pilihan yang lebih murah. Truk tidak bisa mencapai basecamp karena ada portal dan jalan yang dilalui rawan longsor.
Biasanya pendaki menginap di rumah warga setelah atau sebelum mendaki gunung Merbabu yang juga menjadi basecamp. Rumahnya sangat besar bisa menampung puluhan pendaki yang menginap. Di rumah warga ini pendaki bisa memesan makanan dan minuman, seperti nasi goreng, mie rebus, dan kopi. Stiker kaos dan aneka cendara mata juga bisa di peroleh di basecamp yg berupa rumah-rumah penduduk ini. Hanya terdapat satu buah kamar mandi yang airnya mengalir sangat kecil sehingga apabila ramai pendaki yang menginap, maka harus mengantri lama untuk ke kamar mandi.
Dari basecamp, pendakian diawali dengan melintasi area perkemahan yang sangat luas yang ditumbuh pohon-pohon pinus sehingga cukup rindang dan sejuk di siang hari. Agak landai kemudian mulai memasuki kawasan hutan.
Jalur pendakian masih cukup landai, namun akan banyak dijumpai pertigaan, maupun perempatan jalur yang menuju ke perkampungan penduduk, maupun jalur penduduk mencari kayu bakar dan rumput, untuk itu tetap pilih jalur yang paling lebar. Berjalan sekitar satu jam akan sampai di Mpitian yang berupa perempatan jalur.
Dari Mpitian masih agak landai melintasi hutan akan berjumpa dengan sungai kering yang berisi pasir. Setelah menyeberangi sungai kering jalur mulai agak menanjak namun masih melintasi hutan. Setelah berjalan sekitar satu jam dari sungai kering ini jalur terjal sekali meliuk mendaki bukit dan sampailah kita di tikungan macan.
Di Tikungan Macan ini kita bisa memandang ke bawah ke arah jurang yang masih diselimuti hutan yang lebat. Di tikungan Macan ini pendaki yang turun bisa kesasar karena jalur yang sebenarnya berada disisi samping bukan lurus ke bawah.
Dari Tikungan Macan jalur mulai sedikit terbuka, namun masih melintasi hutan yang sudah tidak terlalu lebat lagi. Jalur mulai menanjak, setengah jam berikutnya jalur mulai agak sulit dan semakin terjal. Sekitar satu jam dari Tikungan Macan pendaki akan sampai di Batu Tulis.
Batu Tulis adalah tempat terbuka yang cukup luas, di tengahnya terdapat sebuah batu yang cukup besar. Pemandangan indah di sekitar Batu Tulis bisa menjadi pengobat lelah. Banyak terdapat Edelweiss yang tumbuh tinggi dan besar sehingga bisa digunakan untuk berteduh. Pendaki yang turun Gn.Merbabu, di Batu Tulis ini terdapat juga jalur alternatif yang kelihatan sangat jelas namun sedikit mendaki bukit. Jalurnya berbahaya melintasi punggungan yang sempit dengan sisi jurang di kira dan kanan, sebaiknya tidak melewati jalur ini, tetaplah mengikuti jalur yang resmi.
Dari Batu Tulis medan mulai terbuka berupa padang rumput yang sangat terjal dan berdebu. Bila di musim hujan jalur ini licin sekali sehingga perlu perjuangan sangat keras untuk merangkak ke bergerak ke atas. Puncak Gunung Merbabu masih belum kelihatan, pendaki masih harus melewati empat buah bukit yang terjal untuk sampai di puncak Gunung Merbabu.
Sekitar 1 jam berjuang melintasi medan yang berat dan terjal pendaki akan sampai di puncak bukit, selanjutnya turun dan landai melintasi padang rumput. Pemandangan sekitar di Padang Rumput ini sangat indah, seperti bukit-bukit Teletubies. Sedikit naik bukit dan kemudian turun lagi pendaki akan sampai di Jemblongan yakni sebuah tempat yang banyak di tumbuhi Edelweiis dalam ukuran besar dan rapat sehingga sehingga membentuk hutan yang rindang.
Pendaki bisa beristirahat sejenak sambil tiduran di bawah rindangnya hutan Edelweiss. Di sini adalah tempat terakhir yang bisa digunakan untuk berteduh dan beristirahat dengan nyaman, karena jalur selanjutnya berupa padang rumput terbuka yang kering dan sangat terjal, berdebu di musim kemarau dan sangat licin di musim hujan.
Dari Jemblongan kembali pendaki harus berjuang untuk mendaki bukit yang terjal, licin dan berdebu. Puncak Gunung Merbabu masih belum kelihatan karena tertutup bukit. Pemandangan alam cukup menghibur, di sisi kiri terdapat Gunung Kenong dan di sisi kanan terdapat gunung Kukusan yang runcing dan terjal.
Setelah berjalan sekitar 1 jam akan tampak puncak Gunung Merbabu. Pemandangan yang sangat indah di depan mata, sekaligus pemandangan yang mencengangkan, karena kita memandang jalur medan terjal yang harus kita tempuh untuk menggapai puncak gunung Merbabu. Berbalik arah pemandangan ke arah Gunung Merapi juga sangat indah sekali. Bila kita berjalan dengan cermat sekitar sekitar 25 meter di sebelah kanan jalur akan kita temukan sebuah batu berlobang yang keramat.
Sekitar 30 menit hingga 1 jam diperlukan perjuangan akhir dengan menapaki jalur padang rumput yang terjal dan berdebu untuk mencapai Puncak tertinggi gunung Merbabu. Setibanya di Puncak Gunung Merbabu, untuk menuju Puncak Kenteng Songo kita berjalan sekitar 10 menit ke arah Timur.
Di Puncak Kenteng Songo terdapat batu berlobang yang dikeramatkan masyarakat. Di puncak ini terdapat batu kenteng / lumpang / berlubang dengan jumlah 9 buah yang hanya bisa dilihat, menurut penglihatan paranormal. Mata biasa hanya melihat 4 buah batu berlobang.
Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang Gn. Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak dekat sekali. Ke arah barat tampak Gn.Sumbing dan Sundoro yang kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk di daki. Lebih dekat lagi tampak Gn. Telomoyo dan Gn.Ungaran. Dari kejauhan ke arah timur tampak Gn. Lawu dengan puncaknya yang memanjang.

sumber : http://www.merbabu.com/gunung/gunung_merbabu_selo.php

Jalur Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu

Jalur Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu. Bagi sebagian besar pendaki, Gunung Lawu pasti sudah tidak asing lagi didengar. Gunung yang memiliki ketinggian 3265 meter diatas permukaan laut ini selalu ramai didaki apalagi saat tahun baru Jawa atau yang biasa disebut Suroan. Jalur pendakian yang tidak begitu ekstrim membuat Gunung Lawu menjadi jujugan para pendaki pemula.
Gunung Lawu terletak di perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ada beberapa jalur pendakian yang bisa ditempuh untuk sampai ke puncak Lawu atau Hargo Dumilah. Antara lain jalur Cemoro Kandang, Cemoro Sewu, dan jalur Candi Cetho. Ketiga jalur tersebut memiliki tantangan tersendiri.
Jalur Cemoro Kandang berada di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Jalurnya agak lebih panjang dari jalur Cemoro Sewu namun dengan trek pendakian yang lebih landai. Sedangkan Jalur Cemoro Sewu berada di kabupaten Magetan, Jawa Timur yang jaraknya hanya 500 meter dari jalur Cemoro Kandang. Jalur Cemoro Sewu ini memiliki trek yang agak menanjak namun dengan waktu tempuh yang relatif singkat.
Jalur Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu
Sunrise di Puncak Gunung Lawu
Untuk jalur terakhir yaitu Candi Cetho, jalur ini merupakan jalur pendakian terbaru di Gunung Lawu. Belum banyak yang melewati jalur ini. Jalur ini memiliki pemandangan yang lebih indah dibandingkan dengan kedua jalur pendakian diatas, namun dengan waktu tempuh paling panjang. Nah, kali ini Jejak Si Bolang akan membahas jalur pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu :
BASECAMP - POS 1 :
Jalur pendakian Gunung Lawu didominasi oleh trek makadam dan bebatuan besar. Dari basecamp ke pos 1 jalur pendakian masih cukup landai. Sebelum mencapai pos 1, pendaki akan menjumpai beberapa shelter atau pos bayangan. Waktu tempuh dari basecamp ke pos 1 hanya 45 menit. Di pos 1 terdapat shelter yang bisa digunakan untuk beristirahat. Terdapat juga warung makanan disana namun tidak setiap hari buka.
Jalur Gunung Lawu Cemoro Sewu
Pos 1
POS 1 - POS 2 :
Dari pos 1, pendaki akan melanjutkan perjalanan ke pos 2. Jarak antara pos 1 ke pos 2 merupakan jarak terpanjang dan terlama dalam jalur pendakian ini. Biasanya untuk mencapai pos 2, pendaki membutuhkan waktu antara 90 menit sampai  2 jam 30 menit. Trek yang dilalui mulai menanjak dengan jalur bebatuan yang lumayan membuat otot paha mengeras.
Jalur Pendakian Gunung Lawu
Pos 2
Di pos 2 ini juga terdapat shelter yang biasanya digunakan untuk mendirikan tenda bagi pendaki yang sudah mulai kelelahan dan bermalam disana. Di depan shelter terdapat tanah datar yang cukup untuk mendirikan 3 buah tenda. 
POS 2 - POS 3 :
Trek akan semakin menanjak selepas pos 2. Trek pendakian masih berupa batu-batu besar yang tersusun secara alami. Di trek ini biasanya para pendaki mulai kelelahan dan sering beristirahat di perjalanan. Memang trek pendakian dari pos 2 ini sangat menguras tenaga. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai pos 3 sekitar 60 - 90 menit. 
Di pos 3 terdapat juga shelter yang biasanya juga digunakan untuk mendirikan tenda. Bagi kamu yang sudah tidak mampu melanjutkan perjalanan lagi bisa bermalam di pos 3 ini. Dan selanjutnya bisa summit ke puncak Lawu pada jam 02.30 untuk mengejar sunrise. Perjalanan dari pos 3 ke Puncak Lawu sekitar 2 jam 30 menit.
POS 3 - POS 4 :
Selepas pos 3 trek masih sangat menanjak. Disini ketinggian sudah mencapai lebih dari 2800 mdpl. Pos 4 akan semkain dekat ditandai dengan adanya pegangan besi yang berada di samping kanan kiri jalur pendakian.
Jalur Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu
Pos 4
Di pos 4 ini tidak terdapat shelter, hanya tanah datar berukuran sempit yang cukup untuk 1-2 buah tenda. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai pos 4 sekitar 60 - 90 menit. Sebaiknya jangan bermalam disini karena pos 5 sudah dekat dari sini. 
POS 4 - POS 5 :
Dari pos 4 ke pos 5 jalur pendakian agak landai, dengan trek tanah yang nyaman di kaki. Waktu tempuhnya cuma 30 menit. Di pos 5 ini terdapat beberapa warung yang menjual makanan seperti nasi pecel, gorengan, kopi, teh, dan minuman hangat lainnya.
Bagi kamu yang tidak membawa tenda bisa tidur dan bermalam di dalam warung yang memang sudah disediakan tempat untuk para pendaki.
POS 5 - SENDANG DRAJAT :
Bila di pos 5 tempat untuk mendirikan tenda sudah penuh, pendaki bisa melanjutkan perjalanan ke pos Sendang Drajat. Di Sendang Drajat terdapat sumber air bersih yang bisa digunakan untuk mengisi botol-botol air yang sudah kosong.
Jalur Gunung Lawu via Cemoro Sewu
Sendang Drajat
Di Sendang Drajat juga terdapat sebuah warung makan lengkap dengan genset-nya. Jadi jangan heran bila di Gunung Lawu ada lampu listrik yang menyala. Warung tersebut juga menyediakan tempat untuk tidur bagi para pendaki yang tidak membawa tenda. Dari pos 5 ke Sendang Drajat hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit.
SENDANG DRAJAT - WARUNG MBOK YEM :
Warung di Sendang Drajat itu bukannya warung terakhir di Gunung Lawu. Ada lagi warung yang paling terkenal bagi para pendaki yaitu warungnya Mbok Yem. Warung Mbok Yem hanya berjarak 15 menit dari Sendang Drajat. Sama halnya warung lainnya, di warung mbok Yem ini pendaki bisa bermalam di dalam warung yang memang menyediakan tempat yang cukup luas bagi para pendaki.
Jalur Pendakian Gunung Lawu
Hargo Dalem
Kalau kamu membawa tenda, bisa mendirikannya di depan warung mbok Yem. Salah satu spot terbaik untuk melihat sunrise di Gunung Lawu ini adalah di depan warung mbok Yem. Di sekitar warung mbok Yem terdapat Hargo Dalem yaitu sebuah tempat petilasan Prabu Brawijaya.
WARUNG MBOK YEM - PUNCAK LAWU :
Dari warung mbok Yem ke puncak Lawu atau Hargo Dumilah hanya membutuhkan waktu 15 menit dengan trek full menanjak. Di puncak Lawu terdapat sebuah tugu triangulasi sebagai tanda puncak Gunung Lawu tersebut.
Jalur Gunung Lawu
Puncak Lawu
Di puncak Lawu, bila cuaca cerah pendaki bisa melihat Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Sumbing di sebelah barat dan Gunung Semeru, Arjuno, Welirang di sebelah timur.
 
 
sumber : http://www.jejaksibolang.com/2015/01/jalur-pendakian-gunung-lawu-via-cemoro.html


       Gunung Salak merupakan sebuah gunung berapi yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi. Gunung ini memiliki beberapa puncak diantaranya adalah puncak Salak I dengan ketinggian 2.211 m dpl dan puncak Salak II dengan ketinggian 2.180 m dpl. Gunung Salak bukanlah nama dari tanaman salak, namun berasal dari bahasa sangsekerta “salaka” yang berarti perak. Letusan terakhir gunung ini terjadi pada tahun 1938 berupa erupsi freatik yang terjadi di kawah Cikuluwung Putri. Pendakian Gunung Salak dapat melalui beberapa jalur pendakian. Puncak yang sering didaki adalah puncak I dan II. Puncak Salak I dapat didaki dari arah Cimelati dekat Cicurug, Cidahu Sukabumi atau Kawah Ratu Gunung Bunder. Untuk mendaki gunung ini sebaiknya dilakukan pada pertengahan musim kemarau. Pada musim kemarau jalur pendakian tidak terlalu becek, angin tidak terlalu kencang, dan tidak ada pacet atau lintah. Pendakian gunung salak ini bisa dilakukan lewat empat alternatif rute pendakian yaitu: Rute Pendakian Gunung Salak * Jalur Cidahu (Sukabumi) * Jalur Giri Jaya (Curug Pilung) * Jalur Kutajaya/Cimelati *Jalur Pasir Reungit Jalur Cidahu, Sukabumi Salah satu jalur yang sering dipakai oleh pendaki gunung adalah dari Wana Wisata Cangkuang, Kecamatan Cidahu, kabupaten Sukabumi. Dari Jakarta menuju ke tempat ini dapat menggunakan bus jurusan Sukabumi atau kereta api dari Bogor jurusan Sukabumi kemudian turun di Cicurug. Selanjutnya dari Cicurug sambung dengan mobil angkot jurusan Cidahu. Dari tempat ini ada dua jalur pendakian, yakni jalur lama yang menuju puncak I dan jalur baru yang menuju Kawah Ratu. Wana Wisata Cangkuang sering digunakan menjadi perkemahan dengan pemandangan air terjun yang indah dan sering digunakan pendaki menuju ke Kawah Ratu. Dari jalur ini pula pendaki dapat menuju ke Puncak Salak I. Di pintu masuk Wana Wisata ini terdapat tempat yang nyaman untuk berkemah, juga terdapat banyak warung makanan. Dari jalur ini dapat menuju Kawah Ratu, waktu yang diperlukan adalah sekitar 3-5 jam perjalanan. Sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak I diperlukan sekitar 8 jam perjalanan. Dari perkemahan menuju shelter III memiliki jalur awal curam, kemudian lembab dan basah. Pada musim hujan jalur ini merupakan jalur licin dan curam, perjalanan tertolong oleh akar-akar pohon. Pada shelter ini terdapat sungai yang jernih dan terdapat tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda dengan pemandangan hutan tropis yang lebat. Menuju shelter IV, jalur semakin curam. Jalur ini berupa tanah merah. Di beberapa tempat, kamu akan melewati beberapa tempat becek sedalam dengkul kaki. Pada jalur ini juga pendaki akan melewati dua buah sungai yang jernih airnya. Untuk pendakian jalur ini sebaiknya mengambil air jernih di sini karena pada musim kemarau sungai ini menjadi sumber air bersih terakhir. Sehelter IV merupakan persimpangan jalan. Untuk menuju ke Kawah Ratu ambil jalan ke kiri, sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak ambil jalur ke kanan. Di shelter ini memiliki area yang cukup luas untuk membangun tenda. Menuju Kawah Ratu Dari Shelter IV menuju Kawah Ratu diperlukan waktu sekitar 1 jam. Kawah ratu terdiri dari 3 kawah, Kawah Ratu (paling besar), Kawah Paeh (kawah mati), Kawah Hurip (kawah hidup). Kawah Ratu merupakan kawah aktif yang secara berkala mengeluarkan gas berbau belerang. Di tempat ini dilarang mendirikan tenda dan dilarang minum air belerang. Menuju Puncak Gunung Salak Dari Sehleter III menuju shelter IV akan membutuhkan waktu 1 jam. Perjalanannya akan melintasi akar-akar pohon yang tertutup tanah lunak sehingga kaki bisa terpelosok. Dari tempat ini akan terlihat Kawah Ratu dengan sangat jelas. Setelah melewati sungai kecil dan tempat yang sangat luas, pendaki berbelok ke kanan. Kemudian berjalan ke kiri mengikuti pagar kawat berduri. Jalur ini sangat sempit, sedikit turunan, agak landai, juga curam. Pada sisi kiri dan kanan jalan berupa jurang yang curam dan dalam. Pada jalur ini ditutupi rumput dan pohon. Satu jam melintasi jalur ini pendaki akan melintasi akar-akar pohon dan bebatuan. Jalur shelter V sedikit menurun kemudian kembali menajak tajam. Pendaki akan memanjat tebing batu curam. Menuju shelter VI memerlukan waktu sekitar 1 jam, jalur semakin curam dan sempit sehingga tidak ada waktu untuk beristirahat. Pada shelter VII pendaki perlu waktu sekitar satu jam untuk mendaki punggung gunung yang semakin menanjak. Pada jalur ini pendaki akan banyak melintasi akar pohon sehingga bila angin bertiup pendaki akan ikut bergoyang. Dari sini hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk menuju puncak Gunung Salak I, jalur ini sudah tidak terlalu curam. Sampailah pada puncak Gunung Salak I, Puncak Gunung ini masih banyak ditumbuhi pohon-pohon besar. Tempatnya sangat luas dan dapat digunakan untuk mendirikan beberapa tenda. Di puncak ini terdapat beberapa makam kuno, diantaranya makam Embah Gunung Salak yang nama aslinya Raden K.H. Moh. Hasan Bin Raden K.H. Bahyudin Braja Kusumah. Tidak jauh dari makam Embah Gunung Salak, terdapat makam kuno yang lain, yakni makam Raden Tubagus Yusup Maulana Bin Seh Sarip Hidayatullah. Di puncak Gunung Salak I ini juga terdapat sebuah pondok yang sering digunakan oleh para penjiarah untuk menginap. Jalur Giri Jaya (Curug Pilung) Jalur Giri Jaya terdapat di Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Menuju Puncak Gunung Salak dari jalur ini dapat dilalui dengan waktu tempuh 5 – 8 jam perjalanan. Jalur ini berada di Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Untuk menuju desa Giri Jaya dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan Ojek dari Cicurug. Atau pendaki dapat berjalan kaki dengan waktu tempuh sekitar 3,5 jam perjalanan. Dari pintu masuk Wana Wisata Curug Pilung dengan berjalan kaki beberapa meter akan telihat Gapura pintu masuk Pasareyan Eyang Santri. Dari sana pendaki dapat berjalan melalui rumah penduduk, kemudian akan sampai kebun-kebun rumah penduduk. Setelah berjalan 15 menit pendaki akan sampai di sebuah pertapaan Eyang Santri, disekitarnya terdapat MCK yang terdapatair bersih di dalamnya. Pendaki harus mengambil air bersih dari sini karena melalu jalur ini hingga mencapai puncak tidak terdapat mata air. Di bawah pertapaan Eyang Santri terdapat air terjun yang indah, namanya air terjun Curug Pilung. Daerah ini juga dapat digunakan untuk berkemah. Dari lokasi pertapaan Eyang Santri pendaki akan melewati jalur yang agak landai, melewati pohon pohon damar. Bila cuaca bagus dari sini dapat terlihat Gunung Gede dan Gunung Pangrango dengan sangat jelas. Lereng-lerengnya banyak ditumbuhi pohon besar dan lebat. Dalam waktu 1 jam perjalanan jalur masih agak landai dan melewati jalan yang sempit dan licin. Sekitar 3-4 jam perjalanan pendaki akan sampai pada sebuah makam Pangeran Santri. Di sekitar makam terdapat mushola dan sebuah pondok. Dari makam ini jalur semakin curam, melawati akar dan tanah. Dari tempat ini masih diperlukan waktu 2 jam perjalanan untuk menuju puncak. Di beberapa tempat harus menaiki batu batu besar yang licin yang disekitarnya adalah jurang. Selain itu terdapat akar yang tertutup lumut, bila menginjak tanah akan terjeblos ke celah-celah akar. Di daerah ini biasanya terdapat monyet dan berbagai burung. Selanjutnya pendaki akan sampai di pertemuan jalur yang berasal dari Cangkuang, tepatnya di shelter VII. Dari Shelter VII jalur sudah mulai agak landai melewati akar-akar pohon. Sekitar 10 menit kemudian kita akan sampai di puncak Gunung Salak I.

Sumber: http://www.catatanhariankeong.com/2013/03/jalur-pendakian-gunung-salak.html
Twitter: @KeongTraveler, Instagram: @KeongTraveler, FansPage: Catatan Harian Keong